Kisah Santri Masuk Akademi Militer

4 min read

santri mendaftar akademi militer

Kisah Santri Masuk Akademi Militer

santri mendaftar akademi militer
solopos.com

Pengalaman Masuk Akademi Militer – Muhammad Mursyid Robbani seorang pemuda dari 3 bersaudara yang mempunyai cita-cita ingin menjadi Panglima TNI yang saleh. Hal ini, ia ungkapkan kepada ibundanya dan kepada gurunya saat nyantri di Pondok Pesantren Darut Taqwa
Pintu-Jenangan-Ponorogo.

Karena cita-cita merupakan sebuah impian dan harapan bagi setiap orang akan masa depannya, tentu bagi sebagian orang cita-cita itu adalah tujuan hidup dan bagi sebagian lainnya cita-cita itu hanyalah mimpi belaka.

Saya seorang santri yang dari riwayat pendidikan saya berada dilingkungan pesantren. Walaupun di Sekolah Dasar saya tidak berada di pesantren, melainkan Sekolah Islam Terpadu tentu pelajaran yang saya dapat lebih banyak porsinya di pelajaran agama.

Rasa-rasanya merupakan hal yang aneh jika ada seorang santri ingin melanjutkan hidupnya ke jenjang yang memang berkaitan dengan dunia yang erat kaitannya dengan militer. Tetapi saya sangat optimis, karena ada juga kakak kelas saya yang diterima menjadi Taruna Imigrasi.

Sehingga saya optimis sekali akan menjadi salah satu santri terpilih, calon patriot bangsa. Optimisme saya untuk bisa lolos masuk Akademi Militer (AKMIL) sangat kuat. Begitu optimisnya saya, sampai-sampai hal lain yang biasa dilakukan seorang anak SMA kelas 3, yaitu mencari formulir untuk masuk PT atau perkuliahan tidak saya lakukan.

Inilah mungkin kesombongan yang saya lakukan. Modal sertifikat juara 1 Tri Atletik tingkat provinsi, sertifikat juara 2 lomba Lari Marathon, dan juara 1 lomba pidato Bahasa Arab membuat saya sangat merasa akan lolos.

Pertama Ikut Tes

Test demi test saya ikuti. Untuk wilayah , test dilakukan 2 kali, di Korem Madiun dan di Kodam Brawijaya Surabaya. Test pertama adalah administrasi. Hasilnya lolos, Alhamdulillah. Test kedua, kesehatan awal. Alhamdulillah, lolos.

Keberangkatan pertama kali mengikuti seleksi waktu itu, ikut menyertakan orangtua karena memang sudah seharusnya bagi setiap calon untuk mengajak orangtuanya karena akan ada arahan dari para Jendral. Kebetulan saya mempunyai saudara yang bertempat tinggal disana juga letaknya juga sangat dekat dengan Kodam Brawijaya.

Jadi setelah kami sampai di Surabaya sekitar malam hari jam 22.00. Saya dan kedua orangtua beserta adik kecil saya. langsung menuju rumah saudara untuk istirahat setelah sekian lama menempuh perjalanan yang lumayan jauh.

Tibalah waktu pagi. seluruh orangtua Calon Taruna Akmil berkumpul di gedung balai pertemun dan ditempatkan terpisah dengan anak. Disana orang tua diberi pengarahan tersendiri. Entahlah, saya juga kurang paham awalnya, apa yang dilakukan orang tua dan jenderal-jenderal di dalam ruangan tersebut.

Seleksi Administrasi Dan Kesehatan

Saya hanya fokus dengan seleksi saya. Tiba dihari kedua kami berada di Surabaya kami mengikuti seleksi administreasi, kemudian hari ke tiga mengikuti seleksi kesehatan. Semua dicek. Kondisi tubuh saya, dicek. Tak tertinggal organ kepribadian saya pun juga dicek. Pengecekan organ vital ini yang menjadi pengalaman tersendiri bagi saya.

Tibalah saatnya pengumuman setelah seharian penuh kami menunggu sampai menjelang waktu Maghrib. Semua kemudian dipanggil satu- persatu. Dari sini terlihat yang kemungkinan lolos seleksi berikutnya dipisahkan, termasuk saya. Alhamdulillah saya lolos seleksi kesehatan dan berhak mengikuti tes tahap berikutnya.

Tes Fisik

Tahap berikutnya di hari ke empat ialah tes fisik kami mengikuti dengan penuh semangat. Kami berangkat dari tempat kos-kosan jam 04.00 pagi setelah sholat subuh.

kemudian kami melakukan absen dan mendapat rompi dengan nomor punggung. setelah itu pengecekan detak jantung dan dilanjut pemanasan. setelah melakukan pemanasan selama kurang lebih 10 menit.

Kami dibagi beberapa kelompok untuk melaksanakan tes lari sselama 12 menit. alhamdulillah saya mendapat kelompok urutan ke dua sihingga masih pagi dan tidak kepanasan.

Setelah mendapat 6 setengah putaran kami berlari mengelilingi lapangan selama 12 menit. akhirnya saya sudah kehabisan waktu dengan kondisi tubuh yang lemas karena belumsarapan pagi.

Setelah lari 12 menit, kami berjalan menuju tempat restok alias tempat pul up. sampai disana kami dipanggil satu-persatu untuk menjalani tes pul up selama 1 menit.

Selama satu menit tersebut saya bisa mencapai 15 kali pull up. Tapi sayangnya yang terakhir pull up saya tidak dihitung
karena kurang sempurna saya mengangkatnya.

setelah mengikuti tes pull up kami diarahkan panitia untuk berbaris rapi dua barisan dan berlari kecil menuju kolam renang yang tempatnya tidak jauh dari stadion.

Disana kami mengikuti tes renang yang jaraknya 50 meter ditempuh dengan durasi 1 menit. alhamdulillah saya mencapai titik finish kurang dari batas waktu yang ditentukan. Walaupun seandainya lebih dari itu tidak mengapa tetapi akan mengurangi nilai plus.

Tes Pantukhir

Serangkaian dari tahap tes fisik pun sudah selesai dan kini kami kembali ke kos-kosan masing-masing untuk istirahat dan berkumpul lagi keesokan harinya di gedung balai pertemuan untuk menerima pengumuman peserta yang akan lolos di tahap Pantukir atau Penilaian Panitia Penentu Akhir.

Alhamdulillah saya berhasil lolos ke tahap Pantukhir. Namun pada tahap inilah tentunya untuk dapat memiliki kesempatan melanjutkan ke tahap berikutnya,

Memang terdapat begitu banyak macam proses yang harus dilewati diantaranya akan dilihat langsung oleh para Jendral terkait postur dan lain sebagainya. Dan tentu saja, proses tersebut tidak selalu berakhir dengan bahagia tentu akan ada yang berhasil dan ada yang gugur karena penilaian rinking dan akan dicari yang terbaik.

Banyak dari mereka yang terpanggil, namun juga banyak yang harus mengaku bahwa belum beruntung untuk dapat mengabdi menjadi bhayangkari negara diantaranya saya juga terpanggil untuk mengulang lagi di kesempatan yang akan datang.

Kesimpulan

Menjadi seorang prajurit TNI adalah mimpi jutaan pemuda di Indonesia, berbakti di pelosok negeri dengan melihat keanekaragaman Bangsa secara langsung dengan mata kepala sendiri merupakan kebanggaan yang tiada tandingannya. Apalagi bisa ikut terjun langsung menjaga dan mempertahankannya untuk tetap berada di pangkuan Ibu Pertiwi.

Namun untuk menggapai mimpi tersebut, diperlukan postur prajurit yang cocok dan sesuai agar dapat melaksanakan tugas secara baik dan maksimal apalagi dengan sumber daya yang terbatas.

Jika memang Anda memiliki keinginan yang begitu besar, tetaplah berjuang dan berusaha semaksimal mungkin. Namun jika memang pada akhirnya kesempatan itu telah habis (melewati batas umur), Anda tidak perlu bersedih.

Lanjutkan hidup dengan menjalani pekerjaan lain, karena dimanapun Anda berada, Anda tetap merupakan generasi Bangsa yang dapat menjadi garda terdepan mempertahankan NKRI

Aspek Penilaian

Materi seleksi masuk Akmil terdiri dari beberapa aspek penilaian. Yakni mencakup tiga tingkat pengecekan atau uji dalam seleksi tersebut.

Diantaranya tingkat Sub Panda (panitia daerah), tingkat Panda, dan tingkat Panitia Pusat. Pada tahapan pertama, para calon taruna menjalani pemeriksaan administrasi, kemudian uji kesehatan pertama, dan dilanjut ke seleksi jasmani.

Untuk seleksi jasmani, dilakukan tes fisik dari yang pertama hingga sampai tahap akhir seleksi di tingkat Sub Panda. seperti lari 12 menit, pull up 1 menit, renang, dan postur.

Setelah melalui tahap-tahap yang tertera diatas, apabila dinyatakan lolos maka berhak melanjutkan ke tahap berikutnya yakni tahapan Uji Panda

Kemudian, pada tahapan Uji Panda ini, ada juga seleksi administrasi serta kesehatan. Tes kesehatan tahap dua ini sangat lengkap meliputi pemeriksaan urine, darah, dan rontgen.

Selain itu, juga ada tes kesegaran jasmani lengkap, mental ideologi, dan tes psikologi tertulis.

Salah satu hal yang disorot pada tahapan ini yakni ideologi Calon Taruna Akmil. Tes mental ideologi dilakukan, karena TNI tidak menginginkan orang-orang yang berideologi selain Pancasila bergabung menjadi anggota TNI.

Pada Tes mental ideologi, para Calon Taruna Akmil mengikuti seleksi yang dilakukan secara tertulis dan wawancara untuk pendalaman. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa calon tersebut tidak memiliki ideologi selain Pancasila.

Terakhir, di tahapan Uji Panitia Pusat yang berletak di Magelang dilakukan tes lanjutan sebagai pengembangan tes di tahap Panda. Pada tahapan ini juga diuji soal psikologi lapangan, serta tes akademik.

Setelah tahapan administrasi, tes kesehatan, tes jasmani, tes wawancara, tes pisikologi, serta tes akademik selesai kemudian sebagai penutup, dilakukan Pantukhir atau pemantauan terakhir.

Para Calon Taruna Akmil yang sudah sampai tahap Pantukhir bisa dikatakan sudah dekat dengan kelulusan. Tujuannya ialah, untuk memilih calon yang benar-benar memenuhi syarat sekaligus menyisihkan sebagian calon agar sesuai dengan kuota yang dibutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *